Idul Fitri di Sulut, Melky Ticonuwu Ajak Rawat Filosofi “Torang Samua Basudara”
Manado, Pemburufakta.com – Suasana Idul Fitri 1447 Hijriah di Sulawesi Utara tidak hanya diisi dengan tradisi silaturahmi antarumat Muslim, tetapi juga menjadi panggung nyata bagi penguatan harmoni lintas iman. Di sela-sela momen penuh kemenangan ini, seorang tokoh masyarakat dari keluarga Ticonuwu-Jmarentek, Melky Ticonuwu, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Survei Kepuasan Masyarakat Sulawesi Utara, menyampaikan pesan mendalam tentang makna kebersamaan. Baginya, Idul Fitri bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan pupuk persaudaraan yang telah lama menyuburkan kehidupan bermasyarakat di Bumi Nyiur Melambai. Dengan penuh kerendahan hati, ia mengucapkan “Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin” kepada seluruh warga, menegaskan bahwa tradisi sungkeman dan saling memaafkan adalah bahasa universal yang mampu meruntuhkan sekat-sekat perbedaan.(22/3/2026)
Di Sulawesi Utara, perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi tembok pemisah. Justru di momen-momen besar seperti Idul Fitri, kerukunan di daerah ini hadir menyapa saudara-saudara Muslim yang baru saja menuntaskan ibadah puasa. Melky Ticonuwu memandang bahwa harmoni yang bertahan hingga saat ini bukanlah warisan statis yang tinggal dinikmati. Ia menyebutnya sebagai kebun yang harus terus disirami kesadaran kolektif. Kebersamaan ini tidak terjadi secara otomatis, melainkan perlu dirawat oleh semua pihak, baik Muslim maupun Kristen, dan Idul Fitri adalah salah satu pupuk terbaik untuk menjaga agar akar persaudaraan tetap kuat.
Mengangkat filosofi torang samua basudara, Melky mengajak masyarakat untuk menerjemahkan nilai luhur itu dalam tindakan nyata. Ia mencontohkan bagaimana warga sudah terbiasa membantu menyiapkan hidangan atau bergantian menjaga tempat ibadah saat ada perayaan besar keagamaan. Baginya, kearifan lokal semacam itu adalah modal utama yang membuat Sulawesi Utara tetap damai di tengah gelombang arus polarisasi nasional. Dengan gaya yang sederhana dan dekat dengan warga, ia menunjukkan bahwa kebersamaan tidak perlu diucapkan dengan kata-kata besar, tetapi dihidupi dalam keseharian.
Dalam narasinya yang hangat, Ketua Lembaga Survei Kepuasan Masyarakat Sulut ini menyisihkan waktu untuk berbicara tentang generasi muda. Ia ingin tradisi saling berkunjung saat hari raya tidak hanya sekadar menjadi rutinitas, tetapi diwariskan sebagai pendidikan karakter. Anak-anak muda perlu dibiasakan untuk merasa nyaman masuk ke rumah saudara yang berbeda keyakinan, bukan karena kewajiban, tetapi karena kesadaran bahwa perbedaan adalah anugerah yang memperkaya. Baginya, masa depan Sulut bergantung pada bagaimana generasi penerus belajar merawat kebersamaan sejak dini.
Menyentuh sisi spiritualitas, Melky yang dikenal dekat dengan berbagai kalangan ini menyoroti makna saling memaafkan. Ia memandang bahwa memaafkan adalah inti dari ajaran kasih yang diajarkan dalam kekristenan maupun Islam. Ketika seorang Muslim meminta maaf di hari raya, ia melihatnya sebagai peluang untuk mempraktikkan pengampunan tanpa syarat. Dari pengalaman itulah kemudian terbangun fondasi kolaborasi yang lebih sehat di ruang publik, di mana setiap orang bisa bekerja sama tanpa dibayangi oleh latar belakang keyakinan yang berbeda.
Melky Ticonuwu juga menyampaikan apresiasinya terhadap peran pemerintah daerah dan tokoh masyarakat lainnya yang terus mengampanyekan kebersamaan. Ia menilai dukungan dari berbagai elemen sangat penting untuk menjaga stabilitas sosial. Ketika pemimpin mengajak, tokoh agama mendukung, dan masyarakat merespons, maka terjagalah ekosistem toleransi yang kuat. Dengan nada optimistis, ia menyebut Sulawesi Utara harus terus menjadi mercusuar perdamaian, bukan hanya dalam ucapan tetapi dalam praktik hidup sehari-hari.
Menutup pernyataannya dengan senyum khas seorang tokoh masyarakat, Melky berharap semangat Idul Fitri tidak padam setelah bulan Syawal berlalu. Ia mengajak seluruh warga Sulawesi Utara untuk membawa energi kebersamaan ini ke dalam aktivitas sehari-hari, menjadikan kerukunan bukan sebagai seremoni musiman, melainkan sebagai irama kehidupan yang terus berdetak sepanjang tahun. Di tengah keberagaman yang kadang diuji oleh berbagai kepentingan, suara sederhana dari seorang ketua lembaga survei ini menjadi pengingat bahwa perdamaian tumbuh dari kesadaran kecil yang dirawat bersama. (Red)






