Jeferson Makisurat Angkat Bicara: Saya Bukan Lurah yang Duduk Diam
Bitung, Pemburufakta.com – Pasca beredarnya berbagai tudingan dari sejumlah warga terkait kinerja pemerintah kelurahan, Lurah Batu Kota, Kecamatan Lembeh Utara, Kota Bitung, Jeferson Makisurat, akhirnya angkat bicara. Dengan nada yang teduh dan sikap rendah hati, ia memberikan klarifikasi resmi kepada awak media. Orang nomor satu di Kelurahan Batu Kota ini menegaskan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi di wilayahnya tidaklah sederhana dan tidak bisa diselesaikan seperti membalikkan telapak tangan.
Menjawab pertanyaan wartawan terkait isu mandeknya pembangunan infrastruktur seperti talud, Lurah Jeferson memberikan pencerahan mengenai mekanisme pengelolaan anggaran. “Dengan hormat saya sampaikan kepada masyarakat, bahwa kelurahan memang tidak mengelola dana infrastruktur secara langsung. Semua anggaran untuk pembangunan fisik seperti talud, drainase, dan rabat beton dikelola di tingkat kecamatan. Tugas kami di kelurahan hanya mengusulkan dan berkoordinasi, sementara kewenangan pencairan dan pelaksanaan ada di kecamatan,” jelasnya dengan santun.
Terkait kondisi kantor kelurahan yang disebut-sebut gelap dan listrik dipadamkan, Lurah Jeferson membenarkan bahwa lampu kantor sengaja dimatikan pada malam hari. Namun ia meminta masyarakat tidak salah paham. “Kami mohon pengertiannya, pemadaman lampu di malam hari bukan berarti kantor tidak punya listrik. Itu adalah prosedur standar untuk pengamanan kantor dan penghematan energi. Pada jam kerja, kantor kami terang benderang dan siap melayani warga,” ujarnya penuh pengertian.
Sorotan juga datang terkait kondisi pintu dan jendela kantor yang tampak rusak. Mengenai hal ini, Lurah Jeferson mengakui kondisi tersebut memang ada, namun ia telah mengambil langkah nyata. “Memang benar pintu dan jendela kantor sudah dalam kondisi kurang baik sebelum saya dilantik menjadi lurah. Namun saya ingin berbagi kabar baik, bahwa salah satu pintu sudah saya usahakan dan buatkan. Saat ini tinggal menunggu waktu pemasangan. Saya mohon doanya agar proses perbaikan ini segera tuntas,” ungkapnya dengan nada optimis.
Menanggapi isu kehadirannya yang disebut-sebut tidak rutin di kantor, Lurah Jeferson memohon keringanan hati masyarakat untuk memahami tugas dan tanggung jawabnya. “Saya mohon maaf jika kehadiran fisik saya di kantor kadang tidak penuh. Percayalah, setiap ketidakhadiran saya di meja kerja semata-mata karena tugas kedinasan. Kami harus sering berkoordinasi dengan Dinas Sosial, Disdukcapil dan yang paling penting, mengikuti arahan serta rapat di Kantor Walikota. Semua itu kami lakukan demi kepentingan warga Kelurahan Batu Kota,” paparnya dengan penuh hormat.
Mengenai keluhan pelayanan publik yang dianggap tersendat, Lurah Jeferson menegaskan bahwa pelayanan kepada masyarakat adalah prioritas tertinggi dalam kepemimpinannya. Namun ia mengingatkan bahwa ada prosedur yang harus diikuti. “Kami sangat mengutamakan pelayanan yang ramah dan cepat. Namun jika ada surat atau dokumen warga yang belum bisa terbit, mohon dimaklumi karena biasanya hal itu disebabkan oleh kelengkapan persyaratan yang belum dipenuhi. Kami tidak mungkin menerbitkan dokumen yang tidak sesuai aturan, karena nantinya justru akan merugikan masyarakat sendiri,” terangnya dengan bijak.
Di penghujung pernyataannya, Lurah Jeferson menyampaikan permohonan maaf yang tulus jika selama ini komunikasi dengan warga dirasa kurang. Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi berbagai isu. “Saya pribadi dan pemerintah kelurahan memohon maaf lahir dan batin jika ada kekurangan. Saya hanya manusia biasa yang bisa khilaf. Mari kita ingat, memimpin kelurahan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses, butuh waktu, dan yang terpenting butuh kerja sama dari semua pihak,” ucapnya dengan penuh haru.
Menutup sesi klarifikasinya, Lurah Jeferson Makisurat mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali merajut kebersamaan. Ia berkomitmen untuk terus membuka pintu dialog dan menerima kritik membangun demi kemajuan Kelurahan Batu kota. “Mari kita jaga kedamaian dan persatuan di Kelurahan yang kita cintai ini. Kritik dan saran sangat kami harapkan, asalkan disampaikan dengan cara yang baik. Saya berjanji akan terus berbenah. Karena pembangunan di Kelurahan bukan hanya tanggung jawab saya, tetapi tanggung jawab kita semua. Tuhan memberkati kita semua,” pungkasnya dengan senyuman khasnya. (Melky Ticonuwu)






